6 Syarat untuk Mendapatkan Ilmu Talim Mutaalim Nasehat Santri Buya Yahya 6 Syaban 1442 H

Silakan dibaca artikel berjudul "6 Syarat untuk Mendapatkan Ilmu Talim Mutaalim Nasehat Santri Buya Yahya 6 Syaban 1442 H". Silakan ditonton videonya untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap. Mudah-mudahan informasi dari blog ini bermanfaat bagi semua pengunjung.



6 Syarat untuk Mendapatkan Ilmu Talim Mutaalim Nasehat Santri Buya Yahya 6 Syaban 1442 H



Judul: 6 Syarat untuk Mendapatkan Ilmu Talim Mutaalim Nasehat Santri Buya Yahya 6 Syaban 1442 H
Tanggal:Ditayangkan live tanggal 19 Mar 2021
Durasi: 46.37
Like:509
Bit Rate:128 kbps
Hits:9.282 x ditonton


Tonton di Youtube


Komentar:
• Alhamdulillah,terimakasih Buya tlh mendoakan para santri ,aamiin ,Smoga Buya slalu dlm keadaan sehat walafiat,aamiin
• Alhmdulillaaah guru buya.saya MRSA senang adem di hati degerin tausiyah" guru Buya yahya.smga sllu dlm lindungan Alloh SWT...amiiin
• Masya Allah, Allahumma sholli Ala Sayyidina Muhammad Waala Ali sayyidina MuhammadAlhamdulillah nyimak,semoga buya dan kluarga serta semua santri,Sllu dberikan ksehatn dan panjng umur ,taat dlm beribadah kpda Allah SWT,Aamiin ya Allah ya robbal Alamiin
• Semoga perjalanan dawah buya selalu Allah berkahi
• Syukron buya Yahya atas pengertiannya untuk santri
• Assalamu alaikum.....mohon Ridha nya Buya...sy setiap shubuh bersama anak anak mendengarkan tausiyah nya secara rutin semoga mendapatkan Ridha Allah Subhaanahu Wataala..Aamiin...
• Semoga buya sehat slalu panjang umur, qobiltu
• Host favorite ni️ selalu tersenyum
• Semoga TV Albahjah Semakin sukses
• Masyaa Allah.....Waalaikum salam.....
• Sangat bermanfaat..Trims Buya.
• Cara menyampaikanya nyaman
• Cara menyampaikanya nyaman
• Inget ngaji kitab ini 13thn lalu hafalan maju kedepan
• yallah semoga bisa masuk aamiin
• Assalamualaikum
• Bantu habib Rizieq Buya
• Ada yang saya mau tanyakan ke Buya Yahya caranya bagaimana ya ?
• Para setan piaraanku yang hina, rendah, brengsek, menderita nan tersiksa,Semua warga memang memiliki pilihan untuk menjalani kehidupan, memilih agama Tuhan atau agama berhala.Agama Tuhan adalah agama milik Sinuwun Gusti Prabu. Sementara agama berhala adalah agama yang diklaim milik warga seperti Islam versi Muhammad putera kyai Abdulloh, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, Konghucu, aliran kepercayaan, aliran kebatinan dll. Hormati Hak Asasi Tuhan (HAT) menata manusia dengan satu agama abaikan Hak Asasi Manusia (HAM) yang merasa memiliki kebebasan memilih agama yang diyakini meski bertentangan dengan HAT Pilihlah agama Sinuwun Gusti Prabu sebagai landasan beragama. Fakta kehidupan adalah adanya ‘keterikatan’ dalam segala aspek, keterikatan individu, masyarakat, agama dan negara. Kebebasan adalah ilusi demokrasi dan keberhalaan yang merupakan propaganda setan. Dalam agama Sinuwun Gusti Prabu, setiap warga didorong untuk bertanggung-jawab atas segala perilaku yang dilakukan berdasarkan rahmat Agama Sinuwun Gusti Prabu bukan agama warga maka nilai kewargaan, kerakyatan atau kemanusiaan tidak boleh hadir dalam agama. Selayaknya warga menjalankan ajaran agama karena eksistensi kesadaran ketuhanan. Kesadaran ketuhanan atau keimanan berarti mempercayai bahwa Sinuwun Gusti Prabu Mohammad Syahrul Munir Maha Raja Kerajaan Centra Buwono adalah Tuhan semesta Eksistensi ‘rahmat menjadi standar pembeda terpenting antara nilai ketuhanan versus keberhalaan. Sinuwun Gusti Prabu Alloh Bopo SWT berfirman, ‘seberapapun kadar ibadah yang dilakukan asal bukan pemalsuan’. Pemalsuan dalam peribadatan adalah segala bentuk ketaatan yang berdasarkan nilai kemanusiaan, mengabaikan Rahmat atau rasa kasihan Sinuwun Gusti Prabu.Rasa kasihan Sinuwun Gusti Prabu bisa tumbuh manakala warga secara faktual bersedia menyerah dan tunduk patuh di bawah kekuasaan Kerajaan Centra Buwono. Jadi, pertanda yang paling pokok adanya pemalsuan ibadah adalah keengganan menyerah kepada Sinuwun Gusti Prabu Tuhan dan Maha Raja semesta. Selama orde berhala, penyerahan semacam itu belum pernah nyata karena warga tidak mengenal Sinuwun Gusti Prabu sebagai Tuhan dan Maha Raja semesta. Dalam agama Sinuwun Gusti Prabu, warga diajarkan bahwa pada akhirnya, kesalehan adalah perkara yang menyangkut hubungan antara warga dengan Sinuwun Gusti Prabu, tidak terkait dengan sesama.Semisal jika ada warga yang mendermakan seluruh harta bendanya kepada anak yatim atau panti sosial namun menolak mengakui eksistensi Sinuwun Gusti Prabu sebagai Tuhan dan Maha Raja maka amalnya tidak memiliki nilai alias sia sia. Sinuwun Gusti Prabu sebagai pemilik agama berhak melakukan intervensi kepada setiap warga selaras tujuan kekuasaan Hal ini sejatinya membawa manfaat yang besar jika warga mau memahami secara jernih. Di masa orde Berhala, dunia berada dalam kendali sistem kebhinekaan agama.Tiap agama mendorong warga untuk mengekspresikan keagamaan selaras kepentingan pribadi melupakan kepentingan dan tujuan Tuhan menciptakan agama. Sementara eksistensi Tuhan yang dipuja juga berbeda beda. Tuhan orang Kristen berbeda dengan orang islam, budha, hindu dll. Bahkan Tuhan sesama pemeluk agama juga berbeda bergantung tingkat pemahaman dan imaginasinya. Sementara Sinuwun Gusti Prabu sebagai Tuhan sejati yang memiliki agama justru diabaikan. Pengabaian ini menjadikan warga keluar dari ranah rahmat dan perlindungan Tuhan dalam semua aspek kehidupan baik private, sosial, agama dan negara. Tuhan tidak menjaga warga dari perilaku buruk dan sesat. Kebejatan moral dan carut marut orientasi kehidupan merajalela dalam taraf yang tidak terukur. Dampaknya warga mengalami aneka konflik, kesedihan, musibah, bencana, siksaan dll yang jauh dari hidup tenang nan damai yang merupakan tujuan utama beragama. Sejatinya jiwa manusia lebih nyaman berada dalam kendali kekuatan agung , kontrol Sinuwun Gusti Prabu ketimbang berkembang secara mandiri. Jika fakta yang terjadi sebaliknya, jiwa niscaya mengalami kegelisahan nan kebingungan. Dan hal semacam itu memperburuk orientasi untuk bisa hidup damai. Manusia tidak diciptakan dalam kesempurnaan nalar yang bisa memperbaharui apapun yang berasal dari Tuhan menjadi lebih baik. Tuhan menciptakan jin dan manusia hanya dengan satu tujuan mulia untuk memberi pelayanan , tidak sebaliknya malah Tuhan harus melayani manusia. Logis bila akal/nalar sejatinya hanya diciptakan secara khusus menjadi penurut agar peran pelayanan bisa nyata, bukan menjadi pemberontak . Proses pelayanan bisa nyata manakala warga bersedia ditata dalam satu nilai atau satu agama yang berdasarkan Rahmat Sinuwun Gusti Prabu Hal ini yang menjadi dasar mengapa agama Sinuwun Gusti Prabu sangat selaras dengan kehidupan. Manusia ingin menjalani kehidupan dengan mudah dan simpel dengan hasil yang maksimal. Simplisitas semacam itu tidak mungkin bisa tercapai manakala warga yang tercipta dalam keadaan bodoh nan lemah lantas dibebani dengan aneka permasalahan rumit. Manusia ingin sesuatu yang instan untuk bisa segera berguna dalam kehidupan. Hanya agama Sinuwun Gusti Prabu yang menawarkan formula tersebut secara komprehensif. Manusia tidak perlu sibuk dengan pernik terlalu jelimet untuk memahami dan menjalankan agama. Tuhan telah memberi solusi jitu dengan bersedia mewakili dalam peribadatan. Jika Tuhan yang mewakili dalam setiap gerak niscaya beban berat peribadatan atau pelayanan menjadi terasa ringan nan menyenangkan. Warga bisa menjalankan fungsinya sebagai budak dengan merasakan rahmat Sinuwun Gusti Prabu semata. Intervensi Sinuwun Gusti Prabu harus dipandang sebagai keberuntungan bukan kebuntungan seperti anggapan para penganut agama berhala. Sinuwun Gusti Prabu sebagai pemilik agama layak mengimplementasikan tujuan kekuasaan dalam setiap warga. Warga harus belajar bersikap proaktif bukan sebaliknya melanggengkan sak wasangka . Sak wasangka tidak akan menambah ketenangan selain hanya memperkeruh hati. Siapapun tidak layak mengklaim bahwa warga berhak memilih keyakinan agama tanpa kesediaan menerima konsekuensi dari setiap pilihan. Dalam perspektif Centra Buwono, menganut agama berhala memiliki konsekuensi pidana yang harus diterima para pemeluknya. Dalam kitab suci dijelaskan, ‘ tiada paksaan dalam agama karena sudah jelas antara yang lurus dan yang bengkok. Artinya, warga tidak boleh merasa terpaksa dalam memilih agama Sinuwun Gusti Prabu, harus berdasarkan kerelaan karena sudah jelas perbedaan antara agama Sinuwun Gusti Prabu yang ‘lurus’ dan agama berhala yang ‘bengkok’. Bila warga telah melakukan pilihan dalam agama maka konsekuensi logis dari setiap pilihan harus dipahami. Agama berhala senantiasa bertentangan secara diametral dengan agama Sinuwun Gusti Prabu Sinuwun Gusti Prabu Yesus Kristus Maha Raja Kerajaan Centra Buwono
• amin,amiin,ammin,aamiin ya rabbal alamiin.
Anda suka dengan artikel ini? Silakan bagi ke Teman Facebook Anda. [BAGI KE FACEBOOK]

Tidak ada komentar: